"Kebencian yg berlebihan --seperti juga cinta yg berlebihan-- bisa membuat orang tidak adil dan bahkan kehilangan akal sehat. Tapi kebencian yg berlebihan --tidak seperti cinta yg berlebihan-- dampaknya bisa sangat mengerikan."
Orang yg bodoh masih bisa diharapkan menjadi pintar; tapi orang yg merasa pintar, sadar atau tidak, telah membiarkan dirinya tetap bodoh...
"Seandainya semua orang masuk sorga kecuali satu orang; saya khawatir satu orang itu aku." (Sayyidina Umar Ibn Khatthab r.a. --manusia terbaik ketiga menurut Ahlu sunnah wal jama'ah)
disini tak ada penyesalan yang ada hanya cinta ALLAH dan Rosulullah SAW disamping mengerti akan haknya sebagai hamba dan haknya terhadap sesama
Minggu, 08 November 2009
Alhamdulillah Hujan Euy...
Alhamdulillah hujan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga....
Yach..kemarin sore Pesantren Tambakberas Jombang sudah diguyur hujan, uadeemme rek, segerrrr, mudah - mudahan turunnya hujan disertai turunnya barokah ilmu bagi kita semua, amien..
Yach..kemarin sore Pesantren Tambakberas Jombang sudah diguyur hujan, uadeemme rek, segerrrr, mudah - mudahan turunnya hujan disertai turunnya barokah ilmu bagi kita semua, amien..
Selasa, 03 November 2009
Bangun tidur, tidur lagi....
Bangun tidur, tidur lagi....
Bangun tidur, tidur lagi - Bangun lagi, tidur lagi - Bangun... tidur lagi -Ha… ha… ha… ha…
[persis seperti hatiku yang suka byar pet alias bangun-tidur. Hati yang bangun, hati yang terjaga, manakala hati ini berdzikir mengingat Allah, merasakan Allah dan hadir di hadapan Allah. Hati yang bangun, manakala hati ini benar-benar menjadi rumah Allah, bukankah qolbun mukminin baitullah ? Hati yang tidur, manakala sirna dzikir itu dari dalamnya. Hati yang tidur, manakala dunia ini menyeruak masuk ke dalamnya. Hati yang tidur, manakala terwujud hijab imajiner yang melingkupinya. Ya seperti itu hatiku, kadang berdzikir, kadang lupa, habis bangun, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, begitu seterusnya. Tetapi tetap alhamdulillah juga, kenapa ? Kan cuma tidur, jadi kemungkinannya pasti bisa bangun lagi. Lha kalau hati ini sudah dimatikan yang memilikinya ? Na’udzubillah, semoga jangan sampai terjadi. Q.S. (2:7) : “khatamallaahu 'alaa quluubihim wa'alaa sam'ihim wa'alaa abshaarihim ghisyaawatun walahum 'adzaabun 'azhiim” - Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.]
Bangun tidur, tidur lagi - Bangun lagi tidur lagi - Bangun... tidur lagi - Ha... ha... ha... ha... - Habis bangun terus mandi - Jangan lupa senam pagi - Kalau lupa... tidur lagi - Ha… ha… ha… ha…
[Karena itu begitu bangun hati ini, begitu tersadar hati ini harus langsung mandi. Mandi besar dari janabah kelalaian, kelalaian dari mengingat Allah. Lalai dari Allah itulah awal dosaku, yang harus segera kumandikan dengan basuhan istighfar. Karena begitu aku lupa bertaubat atas kelalaian hati ini ketika aku tersadar, maka biasanya hati ini akan lebih mudah terlena lagi dan terlelap lagi dalam tidur nyenyak kealpaanku. Jangan lupa juga segera senam pagi. Senam pagi menggerakkan badan, senam hati dengan dzikrullah.]
Barang siapa yang ingin hidup - Awet muda, bahagia di dunia ini - Kurangi tidur banyakin ngopi - Ha… ha… ha… ha… - I love you full
[Banyak ngopi, kata dokter jelek, tapi bagiku baik aja, enak aja, ada kitabnya kan pernah kuposting. Ngopi biar betah melek, bercengkerama denganNya, maka stamina hati pun terjaga (awet muda). Kalau hati selalu awet muda, hidup pasti bahagia karena bisa ridho. Bisa ridho kalau di hati ada cinta untukNya. Kalau cinta untukNya telah terpatri, maka dengan sendirinya cinta untuk makhluqNya pun tak teralingi sehingga pada apapun atau pada siapa pun yang terucap I love you full….]
Ada yang bilang mBah Surip lagunya ngaco, asal-asalan, gak mutu, de el el. Tetapi ternyata di balik kesederhanaan syair lagunya kulihat dan kutemukan diriku disana. Tersindir dan tertusuk aku dibuatnya. Ternyata kutemui ada gusti Allah juga di dalamnya. Enak tho… manteb tho…. [lho ON lagi ?! :P]
Alhamdulillah.
Bangun tidur, tidur lagi - Bangun lagi, tidur lagi - Bangun... tidur lagi -Ha… ha… ha… ha…
[persis seperti hatiku yang suka byar pet alias bangun-tidur. Hati yang bangun, hati yang terjaga, manakala hati ini berdzikir mengingat Allah, merasakan Allah dan hadir di hadapan Allah. Hati yang bangun, manakala hati ini benar-benar menjadi rumah Allah, bukankah qolbun mukminin baitullah ? Hati yang tidur, manakala sirna dzikir itu dari dalamnya. Hati yang tidur, manakala dunia ini menyeruak masuk ke dalamnya. Hati yang tidur, manakala terwujud hijab imajiner yang melingkupinya. Ya seperti itu hatiku, kadang berdzikir, kadang lupa, habis bangun, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, begitu seterusnya. Tetapi tetap alhamdulillah juga, kenapa ? Kan cuma tidur, jadi kemungkinannya pasti bisa bangun lagi. Lha kalau hati ini sudah dimatikan yang memilikinya ? Na’udzubillah, semoga jangan sampai terjadi. Q.S. (2:7) : “khatamallaahu 'alaa quluubihim wa'alaa sam'ihim wa'alaa abshaarihim ghisyaawatun walahum 'adzaabun 'azhiim” - Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.]
Bangun tidur, tidur lagi - Bangun lagi tidur lagi - Bangun... tidur lagi - Ha... ha... ha... ha... - Habis bangun terus mandi - Jangan lupa senam pagi - Kalau lupa... tidur lagi - Ha… ha… ha… ha…
[Karena itu begitu bangun hati ini, begitu tersadar hati ini harus langsung mandi. Mandi besar dari janabah kelalaian, kelalaian dari mengingat Allah. Lalai dari Allah itulah awal dosaku, yang harus segera kumandikan dengan basuhan istighfar. Karena begitu aku lupa bertaubat atas kelalaian hati ini ketika aku tersadar, maka biasanya hati ini akan lebih mudah terlena lagi dan terlelap lagi dalam tidur nyenyak kealpaanku. Jangan lupa juga segera senam pagi. Senam pagi menggerakkan badan, senam hati dengan dzikrullah.]
Barang siapa yang ingin hidup - Awet muda, bahagia di dunia ini - Kurangi tidur banyakin ngopi - Ha… ha… ha… ha… - I love you full
[Banyak ngopi, kata dokter jelek, tapi bagiku baik aja, enak aja, ada kitabnya kan pernah kuposting. Ngopi biar betah melek, bercengkerama denganNya, maka stamina hati pun terjaga (awet muda). Kalau hati selalu awet muda, hidup pasti bahagia karena bisa ridho. Bisa ridho kalau di hati ada cinta untukNya. Kalau cinta untukNya telah terpatri, maka dengan sendirinya cinta untuk makhluqNya pun tak teralingi sehingga pada apapun atau pada siapa pun yang terucap I love you full….]
Ada yang bilang mBah Surip lagunya ngaco, asal-asalan, gak mutu, de el el. Tetapi ternyata di balik kesederhanaan syair lagunya kulihat dan kutemukan diriku disana. Tersindir dan tertusuk aku dibuatnya. Ternyata kutemui ada gusti Allah juga di dalamnya. Enak tho… manteb tho…. [lho ON lagi ?! :P]
Alhamdulillah.
ilmu dan kebodohan
Ilmu dan Kebodohan
Sayyidina Ali K.W
1. Orang yang bodoh adalah yang menganggap dirinya tahu tentang makrifat ilmu yang sebenarnya tidak diketahuinya, dan dia merasa cukup dengan pendapatnya saja.
2. Orang yang alim mengetahui orang yang bodoh karena dia dahulunya adalah orang yang bodoh, sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang alim karena dia tidak pernah menjadi orang alim.
3. Orang bodoh adalah kecil meskipun dia orang tua, sedangkan orang alim besar meskipun dia masih remaja.
4. Allah tidak memerintahkan kepada orang bodoh untuk belajar sebelum Dia memerintahkan terlebih dahulu kepada orang alim untuk mengajar.
5. Segala sesuatu menjadi mudah bagi dua macam orang: orang alim yang mengetahui segala akibat dan orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi padanya.
6. Ada dua orang yang membinasakanku: orang bodoh yang ahli ibadah dan orang alim yang mengumbar nafsunya.
7. Imam `Ali a.s. menjawab pertanyaan seorang yang bertanya kepadanya tentang kesulitan, dia berkata, “Bertanyalah engkau untuk dapat memahami, dan janganlah engkau bertanya dengan keras kepala. Sebab, sesungguhnya orang bodoh yang terpelajar serupa dengan orang alim, dan orang alim yang sewenang-wenang serupa dengan orang bodoh yang keras kepala.”
8. Engkau tidaklah aman dari kejahatan orang bodoh yang dekat denganmu dalam kekerabatan dan ketetanggaan. Sebab, yang paling dikhawatirkan terbakar nyala api adalah yang paling dekat dengan api itu.
9. Alangkah buruknya orang yang berwajah tampan, namun dia bodoh. la seperti rumah yang bagus bangunannya, tetapi penghuninya orang yang jahat, atau seperti taman yang penghuninya adalah burung hantu, atau kebun kurma yang penjaganya adalah serigala.
10. Janganlah engkau berselisih dengan orang bodoh, janganlah engkau mengikuti orang pandir, dan janganlah engkau memusuhi penguasa.
11. Yang engkau lihat dari orang yang bodoh hanyalah dua hal: melampaui batas atau boros.
12. Sebodoh-bodoh orang adalah orang yang tersandung batu dua ka1i.
13. Menetapkan hujah terhadap orang bodoh adalah mudah, tetapi mengukuhkannya yang sulit.
14. Tidak ada kebaikan dalam hal diam tentang suatu hukum, sebagaimana tidak ada kebaikan dalam hal berkata dengan kebodohan.
15. Tidak ada penyakit yang lebih parah daripada kebodohan.
16. Dan tidak ada kefakiran yang sebanding dengan kebodohan.
Sayyidina Ali K.W
1. Orang yang bodoh adalah yang menganggap dirinya tahu tentang makrifat ilmu yang sebenarnya tidak diketahuinya, dan dia merasa cukup dengan pendapatnya saja.
2. Orang yang alim mengetahui orang yang bodoh karena dia dahulunya adalah orang yang bodoh, sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang alim karena dia tidak pernah menjadi orang alim.
3. Orang bodoh adalah kecil meskipun dia orang tua, sedangkan orang alim besar meskipun dia masih remaja.
4. Allah tidak memerintahkan kepada orang bodoh untuk belajar sebelum Dia memerintahkan terlebih dahulu kepada orang alim untuk mengajar.
5. Segala sesuatu menjadi mudah bagi dua macam orang: orang alim yang mengetahui segala akibat dan orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi padanya.
6. Ada dua orang yang membinasakanku: orang bodoh yang ahli ibadah dan orang alim yang mengumbar nafsunya.
7. Imam `Ali a.s. menjawab pertanyaan seorang yang bertanya kepadanya tentang kesulitan, dia berkata, “Bertanyalah engkau untuk dapat memahami, dan janganlah engkau bertanya dengan keras kepala. Sebab, sesungguhnya orang bodoh yang terpelajar serupa dengan orang alim, dan orang alim yang sewenang-wenang serupa dengan orang bodoh yang keras kepala.”
8. Engkau tidaklah aman dari kejahatan orang bodoh yang dekat denganmu dalam kekerabatan dan ketetanggaan. Sebab, yang paling dikhawatirkan terbakar nyala api adalah yang paling dekat dengan api itu.
9. Alangkah buruknya orang yang berwajah tampan, namun dia bodoh. la seperti rumah yang bagus bangunannya, tetapi penghuninya orang yang jahat, atau seperti taman yang penghuninya adalah burung hantu, atau kebun kurma yang penjaganya adalah serigala.
10. Janganlah engkau berselisih dengan orang bodoh, janganlah engkau mengikuti orang pandir, dan janganlah engkau memusuhi penguasa.
11. Yang engkau lihat dari orang yang bodoh hanyalah dua hal: melampaui batas atau boros.
12. Sebodoh-bodoh orang adalah orang yang tersandung batu dua ka1i.
13. Menetapkan hujah terhadap orang bodoh adalah mudah, tetapi mengukuhkannya yang sulit.
14. Tidak ada kebaikan dalam hal diam tentang suatu hukum, sebagaimana tidak ada kebaikan dalam hal berkata dengan kebodohan.
15. Tidak ada penyakit yang lebih parah daripada kebodohan.
16. Dan tidak ada kefakiran yang sebanding dengan kebodohan.
tersesat di syurga
Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”
“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”
Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”
“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”
“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”
Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”
“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau
Langganan:
Postingan (Atom)